Senin, 02 Mei 2016

Link 2

tes link download

link download


FARMAKOLOGI
PEMBERIAN OBAT DENGAN CARA PARENTERAL

Kelompok 2
Arik Ismail Wahyudi (14.401.015.011)
Arles gusti sukma A (14.401.015.012)
Bagas Amang Simon (14.401.015.014)
Bagus Adi Sucipto (14.401.015.015)
Bayu Dahroni (14.401.015.016)
Cahya Wulandari (14.401.015.017)
Catur Oktaviani (14.401.015.018)
Cholbi Haswada (14.401.015.019)
Cindi Apriliya Dewi (14.401.015.019)

AKADEMI KESEHATAN RUSTIDA
PRODI DIII KEPERAWATAN
KRIKILAN-GLENMORE-BANYUWANGI 
TAHUN 2015-2016










BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pemberian obat kepada klien ada beberapa cara, yaitu melalui rute oral, parenteral, rektal, vagina, kulit, mata, telinga dan hidung. Pemberian obat secara parenteral adalah pemberian obat selain melalui saluran pencernaan. Pemberian obat parenteral ada empat cara yaitu, intracutan (IC), subcutan (SC atau SQ), intramuscular (IM), dan intravena (IV). Pemberian obat secara parenteral lebih cepat diserap dibandingkan dengan obat oral tetapi tidak dapat diambil kembali setelah diinjeksikan.Oleh karena ituperawat harus menyiapkan dan memberikan obat tersebut secara hati – hati dan akurat. Pemberian obat parenteral memerlukan pengetahuan keperawatan yang sama dengan obat – obat dan topikal (lokal pada kulit). Namun karena injeksi merupakan prosedur invasif, teknik aseptik harus digunakan untuk meminimalkan resiko injeksi. Pemberian obat secara parenteral (harfiah berarti di luar usus) biasanya dipilih bila diinginkan efek yang cepat, kuat, dan lengkap atau obat untuk obat yang merangsang atau dirusak getah lambung (hormone), atau tidak direarbsorbsi usus (streptomisin), begitupula pada pasien yang tidak sadar atau tidak mau bekerja sama. Keberatannya adalah lebih mahal dan nyeri, sukar digunakan oleh pasien sendiri. Selain itu, adapula bahaya terkena infeksi kuman (harus steril) dan bahaya merusak pembuluh atau saraf jika tempat suntikan tidak dipilih dengan tepat.

B.     Rumusan Masalah
a.       Bagaimana  injeksi melalui IM?
b.      Bagaimana injeksi melalui IV?
c.       Bagaimana injeksi melalui IC?
d.      Bagaimana  injeksi melalui SC?

C.    Tujuan
Untuk mengetahui cara pemberian obat secara parenteral dan cara penyuntikan, serta  prosedur dari injeksi intramuscular, subcutan, intravena, dan  intracutan.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.     Injeksi Intramuscular (IM)
Rute IM memungkinkan absorbsi obat yang lebih cepat daripada rute SC karena pembuluh darah lebih banyak terdapat di otot. Bahaya kerusakan jaringan berkurang ketika obat memasuki otot yang dalam tetapi bila tidak berhati-hati ada resiko menginjeksi obat langsung ke pembuluh darah.  Dengan  injeksi di dalam otot  yang terlarut berlangsung dalam waktu 10-30 menit. Guna memperlambat reabsorbsi dengan maksud memperpanjag kerja obat, seringkali digunakan larutan atau suspensi dalam minyak, umpamanya suspensi penisilin dan hormone kelamin. Tempat injeksi umumnya dipilih pada otot pantat yang tidak banyak memiliki pembuluh dan saraf.
Tempat injeksi yang baik untuk IM adalah otot Vastus Lateralis, otot Ventrogluteal, otot Dorsogluteus, otot Deltoid.
Adalah memasukkan sejumlah zat/cairan ke dalam otot dengan jarum suntik.
1.      Cairan yang digunakan biasanya dalam jumlah kecil, antara 0,5-10 cc.
2.      Obat yang sering diinjeksikan cara im : metoclopramide, codein, suntikan KB, macam2 vaksin.
             
                Lokasi untuk penyuntikan IM :
1.      Daerah glutea : penderita dipersilahkan berbaring
2.      Daerah deltoid : penderita boleh berdiri atau duduk
3.      Daerah paha : penderita boleh berbaring atau duduk.

         Prosedur IM :
1.      Bersihkan kulit tempat menyuntik dengan kapas alcohol.
2.      Pegang daerah kulit dan otot yang akan disuntik kemudian tusukkan jarum suntik dalamposisi 90 atau tegak lurus, tindakannya harus tepat dan cepat.
3.      Setelah jarum sepenuhnya masuk, lepaskan pegangan tangan anda, Tarik perlahan pendorong syringe dan lakukan aspirasi untuk memeriksa apakah jarum syringe yang

 ditusukkan masuk ke pembuluh darah atau tidak. Jika tampak darah, jarum segera dicabut dan daerah bekas tusukan ditekan dengan kapas alkohol. Lalu lakukan injeksi di lokasi lain dengan menggunakan jarum baru.

B.      Injeksi Subkutan (SC) :
Injeksi di bawah kulit dapat dilakukan hanya dengan obat yang tidak merangsang dan melarut baik dalam air atau minyak. Efeknya tidak secepat injeksi intramuscular atau intravena. Mudah dilakukan sendiri, misalnya insulin pada penyakit gula.
Tempat yang paling tepat untuk melakukan injeksi subkutan meliputi area vaskular di sekitar bagian luar lengan atas, abdomen dari batas bawah kosta sampai krista iliaka, dan bagian anterior paha. Tempat yang paling sering direkomendasikan untuk injeksi heparin ialah abdomen. Tempat yang lain meliputi daerah scapula di punggung atas dan daerah ventral atas atau gloteus dorsal. Tempat yang dipilih ini harus bebas dari infeksi, lesi kulit, jaringan parut, tonjolan tulang, dan otot atau saraf besar dibawahnya.
Obat yang diberikan melalui rute SC hanya obat dosis kecil yang larut dalam air (0,5 sampai 1 ml). Jaringan SC sensitif terhadap larutan yang mengiritasi dan obat dalam volume besar. Kumpulan obat dalam jaringan dapat menimbulkan abses steril yang tak tampak seperti gumpalan yang mengeras dan nyeri di bawah kulit.
  Adalah memasukkan sejumlah zat/cairan ke bawah kulit dengan jarum suntik.Cairan yang disuntikkan biasanya dalam jumlah kecil.

                  Lokasi penyuntikan :
1.      di paha bawah bagian depan
2.      di perut, bagian bawah umbilicus

        Prosedur  SC:
1.      Bersihkan kulit tempat akan dilakukan penyuntikan dengan kapas alkohol
2.      Pegang daerah kulit yanga kan disuntik, kemudian tusukkan ujung jarum suntik dalam posisi miring 45
3.      Jika jarum sudah masuk semuanya, lepaskan pegangan tangan anda

4.      Jika yakin bahwa jarum sudah masuk di ruang subcutaneus, larutan dalam syringe boleh diinjeksikan
5.      Setelah larutan semuanya sudah diinjeksikan, jarum dicabut perlahan-lahan dan kulit daerah bekas tusukam ditekan denganmenggunakan kapas alkohol.

C.     Injeksi Intra Vena  (IV) :
Injeksi dalam pembuluh darah menghasilkan efek tercepat dalam waktu 18 detik, yaitu waktu satu peredaran darah, obat sudah tersebar ke seluruh jaringan. Tetapi, lama kerja obat biasanya hanya singkat. Cara ini digunakan untuk mencapai penakaran yang tepat dan dapat dipercaya, atau efek yang sangat cepat dan kuat. Tidak untuk obat yang tak larut dalam air atau menimbulkan endapan dengan protein atau butiran darah.
Bahaya injeksi intravena adalah dapat mengakibatkan terganggunya zat-zat koloid darah dengan reaksi hebat, karena dengan cara ini “benda asing” langsung dimasukkan ke dalam sirkulasi, misalnya tekanan darah mendadak turun dan timbulnya shock. Bahaya ini lebih besar bila injeksi dilakukan terlalu cepat, sehingga kadar obat setempat dalam darah meningkat terlalu pesat. Oleh karena itu, setiap injeksi i.v sebaiknya dilakukan amat perlahan, antara 50-70 detik lamanya.

1.      memasukkan sejumlah zat/cairan ke dalam sistem peredaran darah melalui vena dengan jarum suntik.
2.      Efek zat akan sangat cepat menyebar ke seluruh bagian tubuh penderita, karena langsung masuk ke pembuluh darah.
3.      Risiko injeksi iv :
4.      Infeksi : terutama oleh Staphylococcus aureus dan Candida albicans
5.      Phlebitis : iritasi vena bukan karena infeksi bakterial
6.      Infiltrasi : zat yang disuntikkan masuk ke jaringan sekitar.
7.      Embolism : gumpalan darah, massa padat atau udara menyumbat pembuluh darah, terutama pada pemberian central iv. Udara sebanyak 30 ml dapat mengancam sirkulasi darah. Jika sekaligus banyak, maka dapat merusak sirkulasi pulmonal dan mengancam jiwa. Udara yang sangat besar (3-8 ml/kgBB) dapat menghentikan jantung.
8.      Injeksi IV ada 2, yaitu : sentral dan perifer. IV perifer dibagi menjadi 2 lagi, yaitu IV kontinu (infus) dan IV intermitten.
 ·         Lokasi penyuntikanIV :
1.      (penderita boleh duduk atau berbaring)
2.      v. mediana cubiti
3.      v. basilica
4.      v. antebrachial medianus
5.      v. cephalica

             Prosedur penyuntikan IV:
1.      Palpasi daerah lengan atau fossa cubiti untuk menetukan lokasi dan memilih vena.
2.      Pasang manset tourniquet sekeliking lengan atas.
3.      Bersihkan kulit tempat menyuntik dengan kapas alkohol.
4.      Lokasi penyuntikan ditahan dengan ibu jari penyuntik, kemudian mulai tusukkan jarum suntik syringe secara hati-hati.
5.      Tusukkan jarum syringe secara miring sambil menyususr vena yang akan ditusuk.
6.      Tarik perlahan pendorong syringe dan lakukan aspirasi untuk memeriksa apakah jarum syringe yang kita tusukkan sudah benar masuk ke pembuluh vena atau belum. Jika tampak darah, berarti jarum sudah menembus vena. Jika masih belum tampak darah, susuri sampai berhasil.
7.      Jika sudah tampak darah, lepaskan tourniquet lalu injeksikan cairan dalam syringe dengan cara menekan pendorong syringe secara perlahan.
8.      Setelah cairan dalam syringe sudah habis, cabut jarum perlahan kemudian kulit bekas tusukan tekan dengan hati-hati dengan kapas alkohol, kemudian boleh ditutup dengan plester.

        Pemberian IV continue :
       Dimaksudkan untuk memberikan cairan/zat dalam jumlah cukup banyak dan dalam waktu yang cukup panjang, langsung ke dalam sistem peredaran darah melalui vena.
         Prinsipnya sama dengan IV intermitten, tapi ada beberapa perbedaan :
1.      pasien harus berbaring
2.      jarum khusus untuk pemberian infus atau transfusi berupa abbocath.

D.    Intra Cutan (IC)
Perawat biasanya memberi injeksi intrakutan untuk uji kulit. Karena keras, obat intradermal disuntikkan ke dalam dermis. Karena suplai darah lebih sedikit, absorbsi lambat.Pada uji kulit, perawat harus mampu melihat tempat injeksi dengan tepat  supaya dapat melihat perubahan warna dan integritas kulit. Daerahnya harus bersih dari luka dan relatif tidak berbulu. Lokasi yang ideal adalah lengan bawah dalam dan punggung bagian atas.
Lokasi penyuntikan IC:
Lokasi yang umum digunakan adalah permukaan dalam lengan bawah dan punggung bagian atas, di bawah skapula. Peralatan yang digunakan untuk injeksi intradermal adalah siring tuberkulin yang dikalibrasi dalam puluhan dan ratusan ml dan jarum berukuran ¼ – ½ inci, 26 atau 27 gauge. Dosis yang diberikan secara intradermal kecil, biasanya kurang dari 0,5 ml. Sudut pemberian injeksi intradermal adalah 10 – 15 derajat.

 

BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
                  Pemberian obat parenteral ada empat cara yaitu, intracutan (IC), subcutan (SC atau SQ), intramuscular (IM), dan intravena (IV). Pemberian obat secara parenteral lebih cepat diserap dibandingkan dengan obat oral tetapi tidak dapat diambil kembali setelah diinjeksikan.Oleh karena ituperawat harus menyiapkan dan memberikan obat tersebut secara hati – hati dan akurat.
                                                                                                                      
B.   Saran
            Namun karena injeksi merupakan prosedur invasif, teknik aseptik harus digunakan untuk meminimalkan resiko injeksi. Pemberian obat secara parenteral (harfiah berarti di luar usus) biasanya dipilih bila diinginkan efek yang cepat, maka dari itu kita harus cekatan, tanggap dan harus membutuhkan skill yang bagus dan ketelitian.








DAFTAR PUSTAKA
Ariyani, Ratna. 2009. Prosedur Klinik Keperawatan Pada Mata Ajar Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta : Trans Info Media
Berman, Audrey dkk. 2009. Buku Ajar Praktik Keperawatan Klinis Edisi 5. Jakarta : EGC
Lynn, Pamela. 2010. Atlas Foto Pemberian Obat Lippincott. Jakarta : Erlangga
Tim Penulis Poltekkes Kemenkes Maluku.2011.Penuntun Praktikum Ketrampilan Kritis I untuk Mahasiswa D3 Keperawatan.Jakarta:Salemba Medika